Pesan Lautan Kepada 2019

By Syukur 25 Mar 2019, 23:08:58 WIB Opini
Pesan Lautan Kepada 2019

Keterangan Gambar : Saparuddin Numa, Aktivis HMI Komisariat Adab dan Humaniora


MAKASSARNEWS.COM - Kemarin, seseorang datang mengunjungiku. Duduk termenung di bibir pantai. Sesekali ia tersenyum, meski matanya tak mampu berdusta, ia sedang dalam kerisauan. Nampak jelas dari tatapan kedua matanya, suatu keresahan, kebimbangan hinggap diatas pundaknya. Sesekali ia bersiul mengikuti tarian sang ombak, seakan mencoba melepas deritanya lewat siulan yang kadang tidak karuan. Akupun mendekat, mencari jawaban dari apa yang tengah kupikirkan tentang dirinya. Mungkinkah beban itu ada atau mungkin hanya sekedar pikiranku?

Dengan santai kusapa dirinya, meski terasa angin sekitar sepertinya  sedang tak bersahabat. Ia pun menatap seakan ada duri yang menancap di dahinya. Aku tahu, ia kaget. Benar dugaanku, senyuman dan siulannya tadi bukanlah suatu kebenaran. Nampaknya ia tak sadar ketika aku mulai mendekatinya. Ia pun kembali melempar senyum dan lagi aku melihat ketidak selarasan antara senyuman dan bola matanya.

Dengan dinginnya, aku mulai bertanya, tanpa perlu kutanyakan namanya, aku sudah lama mengenalnya, ia adalah 2019. Sejak ia hadir, bahkan sebelum ia dihadirkan, namanya kerap menjadi perbincangan dikalangaan penghuni lautan. Beberapa narasi tentang dirinya telah banyak diperbincangkan, entah lewat nyanyian para ikan yang tengah berkumpul atau lewat canda gurau antara karang dan rumput laut. Semuanya telah mengenal dirinya, dipertengahan 2018, namanya telah banyak disebut-sebut. Menyisakan nama dalam wujud yang absurd. Kini, ia telah hadir, beberapa rasa penasaran termasuk diriku telah terjawab.

 Kumulai dengan pertanyaan “ada apa dengan dirimu? hampir setiap kali kau berkunjung kemari, aku selalu melihat senyuman palsu dalam wajah yang polos itu” Dengan nada yang santai ia menjawab “kau telah keliru lautan, senyuman ini benar adanya, aku merasa nyaman melihat dirimu mampu berlari dengan bebas ditemani  sang angin” Mendengar jawaban itu, Aku hanya sedikit tertawa, mencoba mencairkan suasana. Akupun kembali membuka percakapan “tidakkah kau lihat beberapa karang yang menjadi temanku selama ini mengalami masalah? Tidakkah kau perhatikan, ikan-ikan yang setia bernyanyi denganku, perlahan menderita karena ulah beberapa orang yang tak paham denganku. Aku tau, kau sedang dalam kerisauan, bicaralah. Aku takkan menertawaimu” Sahutku kepada dirinya.

Dia terdiam sejenak, menatap diriku sambil tersenyum dan aku tau, kali ini senyumnya berbeda. Menghela nafas secara perlahan, ia menjawab “Memang benar, wahai lautan, aku tengah dalam kerisauan dan dirimu benar senyumku adalah sebuah kepalsuan” Tanpa menunggu lama, aku langsung melontarkan pertanyaan “ada apa dengan dirimu 2019? Bukankah, kau adalah hal yang paling dinanti oleh banyak orang. Sejak pertengahan 2018, semua telah membicarkanmu, bahkan tak sedikit yang selisih faham karena namamu. Kini kau telah hadir, lalu mengapa kau masih risau?’ tanyaku. Ia pun menjawab “Justru karena namaku, kini aku dalam kebimbangan. Aku takut, kehadiranku menjadi kehancuran bagi dirimu dan yang lainnya. Sejak kemunculanku, namaku kerap menjadi ajang perdebatan tanpa ujung, saling menyalahkan atas nama kebenaran. Aku takut, bumi dan lautan akan berpisah karena diriku, sedang tanpa mereka aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya berharap, diskusi tentang diriku menyatukan kita semua, bukan memecah kebersamaaan kita”  Jawabnya

Aku mencoba menghela nafas, memejamkan mata sejenak. Kubiarkan angin berlalu kedalam jiwaku. Kulanjutkan diskusiku dengan tatapan yang sedikit serius “memang ada dengan dirimu 2019, apa maksud dari ketakutanmu itu?” Dengan nada sedikit sedih, ia menjawab “aku mungkin telah kau kenal, bahkan jauh sebelum aku ada. Setidaknya, aku ingin seperti yang lainnya, diriku tak jadi alat dalam cerita atas kuasa. Aku tak mau, jadi bahan cekcok dalam dinamika politik. Aku sayang mereka, aku bangga dengan diskusi dan narasi kuasa mereka, namun aku sedikit kecewa, jikalau kuasa dan politik tak lagi menyatukan mereka. Setidaknya, aku ingin kita berbeda dalam pandangan namun sama dalam tujuan” Jawab si 2019. Aku hanya mengangguk, sesekali kutatap bola matanya yang nampak berkaca-kaca, “Aku paham akan kondisimu wahai 2019”  tuturku sembari menatap keindahan langit.

Akupun mencoba menasehatinya, meski aku paham, bebannya bukanlaah perkara mudah. “Pesanku, tiap nama punya cerita dan kisah masing-masing. Kau tak pernah salah karena masalah ini, justru dengan dirimu, saya banyak melihat hal yang tak pernah terlihat. Terkadang banyak hal aneh diluar nalar berpikir yang muncul mengatas namakan dirimu. Banyak hal konyol dan juga menggelitik karena kehadiranmu. Namun aku tau, itu hanya persoalan waktu. Aku yakin, apapun bentuknya, kita tetap akan bersama, cerita panjang tentang dirimu, biarkan jadi kisah bagi kita semua, kita menginginkan keadilan, kebenaran, kemakmuran dan kesejahteraan. Sementara aku percaya, mereka akan mampu mewujudakan itu semua. Maka tenanglah, dan lepas risaumu itu” Narasi pendek yang sempat ku ucap pada dirinya. Ia hanya tersenyum, lantas membasuh mukanya, tak selang berapa lama, iapun bergegas pulang. Meski aku tau, pesanku bukanlah satu-satunya solusi bahkan belum tepat bagi beban yang ia jalani.

 

Penulis: Saparuddin Numa (Aktifis HMI Komisariat Adab dan Humaniora)

Editor: Syukur




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden dan Wakil Presiden Favorit Anda?
  Jokowi - Ma'ruf
  Prabowo - Sandi
  Siapa caleg DPRD anda di Sulsel?

Komentar Terakhir

  • Didi

    Mantap saya pendukung utama dan saya yakin pasti menang ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video