Petani Dan Nelayan: Kehormatan Manusia Pekerja
“Pada prinsipnya dalam hidup adalah berterimahkasih pada segala hal yang telah memberi kita kehidupan”

By Syukur 25 Mar 2019, 02:19:59 WIB Opini
Petani Dan Nelayan: Kehormatan Manusia Pekerja

Keterangan Gambar : Muzakkir (kanan), Caleg DPR RI Dapil Sulsel 2 nomor urut 9 berfoto dengan Prabowo Subianto (kiri)


MAKASSARNEWS.COM –Suatu ketika Sang Proklamator, Soekarno pada tahun 1920 bolos kuliah dan berkeliling Bandung dengan sepedanya, ia melihat seorang petani berbaju lusuh sedang menggarap sawah miliknya dan berusaha mengajak berdialog dengannya. Berdasar dari keterangan yang diperoleh dari sang petani, Soekarno kemudian menamai rakyatnya Marhaen sebagaimana nama petani bernasib malang yang ditemuinya.  pengalaman yang mengugah hati Soekarno bukanlah perihal yang biasa saja, tetapi menjadi inspirasi perjuangannya sendiri.

Menilik latarbelakang narasi bangsa kita sendiri, bertani dan melaut adalah identitas profesi yang sangat lekat dengan rakyat di penjuruh nusantara.

Bertani dan Melaut Manusia Bugis

Sulawesi Selatan adalah wilayah yang banyak didiami Bugis-Makassar dikenal sebagai manusia pelaut dan petani itu tergambar dalam suatu karya epik I Lagaligo. Bercocok tanam dan melaut merupakan suatu pekerjaan utama manusia Bugis, ada beberapa ritual yang dikenal dalam tradisi manusia Bugis untuk menghormati proses masa cocok tanam sampai masa panen. Mulai dari pembajakan tanah atau Apalili yang secara etimologi berasal dari kata palili yang artinya menjaga tanaman dari segala hal yang mengganggu tanaman, ini adalah waktu yang tetap untuk mulai menanam. Setelah Apalili, kemudian diselenggarakan Apatinro Pare,penyemaian bibit padi. Proses ritual penyimpanan bibit padi dengan berbagai variasi di rumah (bola) adalah upaya menghindarkan bibit padi dari binatang yang membawa hama. Bersamaan dengan itu juga dilakukan proses massureq, dengan mebacakan beberapa naskah yang tertuang dalam I La Galigo. Setelah masa panen tiba maka digelarlah Katto Bokko sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Kemudian hasil panen akan diarak menuju rumah adat yang pada malam harinya diadakan proses Mappadendang, menyelenggarkan tarian dan musik dari alat penumbuk padi secara berkelompok.

Pada zaman pra sejarah nelayan bukanlah mata pencarian bagi orang bugis tetapi hanya menjadi pekerjaan sampingan saja. Kini nelayan dalam narasi sejarah bangsa bugis sudah merupakan mata pencarian. Ia dikenal sebagai pencari ikan di sungai, danau, dan laut. Manusia bugis biasanya selain mencari ikan juga mencari teripang bahkan sampai menulusuri bagian barat Australia. Dari latar belakang sejarah manusia bugis dikenal sebagai pelaut ulung, ini dilihat dari jarak tempuh perjalanan sampai ke daerah perairan luar yang jauh.

Kehormatan Para Pekerja

Bertani dan melaut merupakan gambaran dari narasi yang panjang manusia Bugis. Pekerjaan menjadi petani terkadang dalam status sosial dianggap sebagai suatu pekerjaan yang tidak menjamin orientasi hidup yang lebih baik. Kurangnya manusia Bugis yang berpandagan bahwa menjadi petani dan nelayan adalah merupakan harkat kemanusian yang mulia. Tidakkah kita sadar bahwa dengan bertani dan menjadi nelayan adalah upaya menghidupi manusia lainnya. Terkadang kita lebih memilih sekolah dengan orientasi pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tetapi jarang memasuki jenjang sekolah yang identik dengan karakter dan identitas sejarah kita sendiri, sebagai nelayan dan petani.

Penulis lahir dari latar belakang keluarga nelayan dan petani, banyak belajar dari keberanian, kearifan dan perhitungan matang dalam bekerja. Belajar dari sang Ayah, Daeng Massiseng untuk mejadi laki-laki yang tak mudah takluk sebagaimana pribadi beliau sebagai pelaut yang tidak gentar menentang ganasnya lautan. Disisi lain belajar dari Sang Bunda untuk mejadi pribadi ikhlas dan penuh kasih sayang tanpa batas. Mengenal pribadi mulia sebagai pekerja akan membangkitkan kita dari kemalasan untuk selalu menyalakan sumbuh perjuangan dalam hidup. Menjadi petani dan nelayan adalah keberkehan tersendiri bagi sesama, disana ada beras dan beraneka ragam ikan untuk menjadi konsumsi kita setiap saat sebagai penyambung hidup.

Perjuangan para manusia pekerja akan menginspirasi dalam hidup kita sendiri. Disana ada kebesaran pribadi untuk senantiasa bermamfaat bagi sesama.

 

Penulis: Muzakkir (Caleg DPR RI Dapil Sulsel 2 nomor urut 9)

Editor: Syukur




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden dan Wakil Presiden Favorit Anda?
  Jokowi - Ma'ruf
  Prabowo - Sandi
  Siapa caleg DPRD anda di Sulsel?

Komentar Terakhir

  • Didi

    Mantap saya pendukung utama dan saya yakin pasti menang ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video